ULASAN RESENSI NOVEL EDENSOR OLEH ANDREA HIRATA

Judul Buku            : Edensor

Penulis                   : Andrea Hirata

Tahun Terbit           : Mei, 2007

Jumlah Halaman    : 290 halaman

Penerbit                  : Bentang Pustaka









  Novel ini merupakan tetralogi dari Laskar Pelangi yang menceritakan kisah petualangan Andrea dan Arai yang berpetualang dan berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya hingga ke belahan bumi yang lain. Awalnya, Andrea bukanlah bernama Andrea, melainkan nama lain. Ia sering bergonta-ganti nama lantaran dirinya yang nakal bukan kepalang. Kemudian, ia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Andrea dan hal itu terbukti ia berubah menjadi anak yang baik. Namun, bukan semata-mata karena nama itu saja, melainkan karena ia jatuh cinta terhadap A Ling dan berusaha untuk merebut perhatian sekaligus hatinya dengan menjadi sosok lelaki yang baik.

    Andrea dan Arai melanjutkan pendidikannya hingga ke Eropa karena merupakan penerima beasiswa Uni Eropa. Berbagai tantangan langsung menyergap mereka setibanya mereka di sana. Bahkan Andrea hampir mati kedinginan karena suhu yang mencapai minus 19 derajat saat itu. Mereka harus beradaptasi dengan teman-teman yang beragam dan perbedaan budaya di sana.

    "Nanti harus kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi."

    Berdasarkan petuah itu, Andrea dan Arai berencana untuk melakukan penjelajahan Eropa. Mereka mengadakan pertaruhan penjelajahan Eropa bersama teman-temannya itu. Awalnya, teman-temannya itu menganggap itu ide yang gila. "Ide-ide sinting memang selalu memiliki dua dimensi : dicemooh atau diikuti orang-orang frustasi."

    Siapa yang paling banyak mengunjungi negara, maka ialah pemenangnya. Sedangkan yang paling sedikit mengunjungi negara, akan mendapatkan hukuman yang memalukan. Mereka akan melakukan pertaruhan itu pada liburan musim panas nanti. Untuk bisa mewujudkan penjelajahan Eropa itu, mereka harus kerja paruh waktu. Bahkan Andrea dan Arai harus menjadi patung duyung dengan make up tebal dan kostum yang menggelikan, demi mendapatkan uang untuk biaya penjelajahan itu. 

    Tak hanya biaya yang menjadi persoalan, kehilangan arah saat penjelajahan karena hanya bermodalkan kompas dan peta, menjadikan penjelajahan itu semakin sulit. Namun, mereka banyak belajar dari peristiwa penjelajahan itu.

    Sejujurnya, ini pertama kalinya saya membaca karya Andrea Hirata. Entah hanya buku ini saja atau memang saya kurang cocok dengan gaya penulisan Andrea Hirata. Penulisan Andrea Hirata pada buku ini memang penuh dengan ilmu dan kata-kata mutiara. Namun, untuk fokus alur cerita, saya kurang bisa menikmatinya. Alur cerita dalam buku ini cenderung terkesan lompat-lompat dan tidak memiliki klimaks sehingga saya bingung inti dari cerita ini apa.

    Meskipun saya kurang cocok dengan gaya penulisan Andrea Hirata yang seringkali membuat saya kehilangan fokus dan minat membaca, Andrea Hirata banyak sekali menyisipkan petuah-petuah yang sangat berkesan. Bahkan, tak bisa dipungkiri bahwa banyak petuah itu yang saya tuliskan di buku pribadi saya untuk bisa dibaca dan diterapkan di kemudian hari.

    Andrea dan Arai memiliki keberanian untuk bermimpi, membuat para pembacanya bergairah untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Keberhasilan itu terkadang tercapai bukan karena apa yang sudah diupayakan, tetapi karena ditaklukan oleh mimpi masa kecil. "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."

    Mungkin saya akan mencoba membaca bukunya Andrea Hirata yang lain, seperti Ayah ataupun Laskar Pelangi untuk kemudian bisa lebih menyimpulkan terkait penulisan Andrea Hirata.

Komentar

Postingan Populer