LGBT kenapa bahaya sih? Bagaimana LGBT di dunia kesehatan?


Dunia baru saja memasuki waktu bulan Juni yang mana disebut-sebut sebagai bulannya para kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Setiap bulan Juni, kelompok LGBT akan merayakan momen Pride Month. Mereka menyuarakan hak asasi mereka sebagai manusia untuk saling mencintai, terlepas bagaimana orientasi seksualnya. Namun, LGBT ini merupakan perkara yang tidak pernah ada akhir dari kontroversinya. Dengan kata lain, LGBT masih saja memiliki dua kubu yang sering memanas, yaitu kubu pro dan kontra.

Indonesia menjadi negara kelima terbesar di dunia dalam menyumbang penyebaran LGBT. Berdasarkan beberapa survei independen, Indonesia memiliki 3% penduduk LGBT atau setara dengan 7,5 juta penduduk LGBT dari total 250 juta penduduk Indonesia (survey CIA, 2015; Santoso, 2015).

Kasus LGBT yang dulunya merupakan hal tabu, sekarang sudah secara terang-terangan dilakukan di Indonesia. Bahkan, banyak yang melakukan aksi demo yang dilakukan kaum pro LGBT yang ditujukan kepada kaum kontra LGBT. Hal ini tentunya menjadi perhatian lebih bagi masyarakat dan pemerintah karena banyak pihak dan hal-hal yang dirugikan dari perilaku LGBT.

Kaum LGBT menyatakan bahwa tidak ada batasan dalam mencintai dan mengasihi. Padahal, banyak sekali alasan kuat yang menentang adanya LGBT ini. Selain dari sisi agama, dari segi kesehatan pun banyak sekali dampak negatif yang didapatkan. Menyimak penjelasan dr. Inong SPKK yang juga merupakan seorang relawan khusus komunitas LGBT, menjelaskan bahwa banyak penyakit menular seksual yang disebabkan dari perilaku LGBT ini. Bahkan, kasus pertama HIV/AIDS pertama kali ditemukan pada lima pria homoseksual di Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1981. Seperti yang kita ketahui bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit menular seksual yang mematikan dan hingga sekarang belum ditemukan obatnya. Hal ini bisa terjadi karena seharusnya mereka melakukan hubungan badan sebagaimana mestinya, yaitu antara laki-laki dan perempuan yang telah menikah sah secara agama dan hukum. Namun, pelaku homoseksual ini malah melakukannya antara laki-laki dengan lelaki menggunakan duburnya. Dubur merupakan tempat membuang kotoran yang sudah dapat dipastikan bahwa bagian tersebut merupakan tempat yang kotor dan bisa membawa beragam penyakit. Akan tetapi, mereka menggunakannya tidak sesuai dengan fungsinya. 

Berdasarkan data yang diungkapkan Kemenkes pada tahun 2012, terdapat 1.095.970 gay atau LSL yang lebih dari lima persennya atau sebanyak 66.180 yang mengidap HIV. Maguen dkk (2000) menemukan bahwa individu homoseksual dan biseksual memiliki tendensi yang tinggi untuk terjangkit Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Survei yang dilakukan oleh Surveilens Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun 2013, dinyatakan bahwa prevalensi HIV pada pengguna nafza suntik (Penasun) sebesar 39,2%, Lelaki Suka Lelaki (LSL) sebesar 12,8%, Waria sebesar 7,4%, Wanita Penjaja Seks Langsung (WPSL) sebesar 7,2%, Wanita Penjaja Seks Tidak Langsung (WPSTL) sebesar 1,6%, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebesar 1,2%, pria risti sebesar 0,2%. Pada kelompok IMS prevalensi sifilis pada LSL sebesar 11,3%, waria sebesar 9,7%, sedangkan gonore tertinggi pada WPSL sebesar 32,2%, waria sebesar 19,4%, WPSTL sebanyak 17,7%. Prevalensi klamidia tertinggi pada WPSL sebanyak 40%, WPSTL sebanyak 30,8% (Surveilens Terpadu Biologis dan Terpadu, 2013). Berdasarkan data yang telah disajikan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit menular seksual didominasi oleh pelaku homoseksual, terutama LSL atau gay.

Untuk menangani kaum LGBT, harus ditangani dengan pendekatan tersendiri. Mereka harus dirangkul, diajari secara perlahan, dan diarahkan secara baik-baik untuk kembali ke fitrahnya. Tak jarang, kaum LGBT ini terpaksa melakukannya karena permasalahan ekonomi yang mengharuskan dirinya menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial) bagi LGBT. Oleh karena itu, tak hanya psikologisnya saja yang harus diberi arahan, tetapi mereka juga harus diberikan pelatihan skill untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis dan setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan primer mereka.



REFERENSI

Hasnah & Allang, S. (2019). Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) Versus Kesehatan: Studi Etnografi. Jurnal Kesehatan, Vol 12, No. 1, hlm. 63-72.


Hidayani, W.R. (2020). Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT): Epidemiologi dan Pengetahuan Siswa SMA. Banyumas: Pena Persada.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer