Totto Chan's Children : A Goodwill Journey to the Children of the World Oleh Tetsuko Kuroyanagi
Judul: Totto Chan's Children : A Goodwill Journey to the Children of the World
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Februari 2010
Jumlah Halaman: 328 halaman
Belajar Hal Besar yang Didapat dari Anak Kecil: Bertemu Anak-anak Hebat Melalui Totto Chan's Children
Awalnya saya meminjam buku ini pada seorang teman saya karena Totto Chan ini seringkali seliweran di beranda twitter saya yang mengatakan buku ini bagus. Bahkan, tak jarang saya melihat bahwa banyak pengguna twitter yang menjadikan buku ini sebagai "best book" atau buku terbaik yang pernah dibaca. Oleh karena itu, saya menjadi tertarik untuk membaca buku ini. Saya tidak punya bayangan apa-apa terkait isi buku ini. Hingga buku itu tiba di tangan saya, dan betapa kagetnya ketika saya melihat isi bukunya yang dilengkapi dengan foto-foto yang sepertinya tampak nyata. Saya pun membaca beberapa paragraf pada halaman buku yang saya temukan secara acak. Saya lebih-lebih terkaget lagi ketika menyadari bahwa buku ini bukan novel, melainkan seperti sebuah catatan perjalanan. Saya tidak tahu apakah buku ini bisa digolongkan ke dalam kategori buku nonfiksi atau tidak.
Sejujurnya saya bukan tipe pembaca buku nonfiksi, tetapi buku ini berhasil menarik perhatian saya. Buku ini membahas tentang permasalahan kemanusiaan berdasarkan pada negara-negara yang dikunjungi oleh penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi. Tetsuko Kuroyanagi merupakan seorang aktris yang telah memenangkan berbagai penghargaan. Ia juga merupakan seorang penulis dan ahli panda. Kisahnya sebagai seorang gadis kecil yang lahir pada masa perang di Jepang, ia tuangkan dalam novelnya yang berjudul "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela". Novel itu sungguh fenomenal dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Berkat keberhasilan dan kepopuleran novelnya itulah yang mengantarkannya kepada pengangkatan dirinya untuk menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF. Di sinilah perjalanannya dimulai.
Perjalanannya dimulai dengan mengunjungi Tanzania dan berakhir di Bosnia-Herzegovina. Ternyata, berita kelaparan dan kekeringan yang disiarkan melalu berbagai media, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jika datang langsung ke lokasi. Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air saja, tetapi juga berdampak terhadap ketersediaan pangan lainnya. Tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh, tidak ada hewan yang bisa dijadikan makanan. Bahkan kekeringan itu bisa mengubah hutan menjadi gurun pasir yang tidak ada satu pun tumbuhan yang dapat tumbuh. Ketersediaan makanan semakin krisis sehingga kelaparan tidak dapat dihindari. Kelaparan ini tentu juga berdampak pada kesehatan manusia. Kemampuan otak tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya. Bahkan, Rogati, seorang anak laki-laki berumur enam tahun yang Tetsuko temui di Tanzania, ia berukuran sangat kecil, hampir tidak bisa berdiri, berjalan, atau bicara. Itulah akibat kelaparan. Ketika seorang anak tidak mendapatkan makanan, bukan hanya tubuh yang berhenti tumbuh, melainkan juga otak karena otak juga memerlukan gizi. Dengan demikian, kekeringan memberikan efek domino terhadap berbagai aspek penting kehidupan dan kesejahteraan.
Kekeringan sangat memengaruhi ketersediaan air. Dehidrasi juga memengaruhi perkembangan otak. Karena terbatasnya ketersediaan air, bahkan banyak di negara-negara tersebut yang terpaksa meminum air berlumpur dan penuh tanah untuk bisa mendapatkan air agar tidak dehidrasi. Kondisi tubuh mereka yang sudah penuh penyakit, semakin diperparah karena mengonsumsi air kotor. Namun, hal itu terpaksa dilakukan karena mereka tidak memiliki kayu bakar untuk memasak air. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya penyakit malaria dan penyakit menular lainnya di lingkungan kamp pengungsi.
Kondisi negara yang dikunjungi Tetsuko tidak hanya memiliki permasalahan kekeringan dan kelaparan, tetapi juga ada beberapa negara yang sedang memiliki konflik di negaranya ataupun sedang mengalami perang yang sadis dan penuh dengan kebrutalan. Dampak dari perang dan konflik ini tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan saja, tetapi juga sangat memengaruhi kondisi kesehatan mental, khususnya anak-anak.
Banyak hal dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah perjalanan dalam buku "Totto Chan's Children" ini. Dalam keadaan sulit pun, orang masih saja memprioritaskan yang lebih membutuhkan (walaupun sebenarnya mereka sama-sama membutuhkan).
"Terima kasih tidak selalu diucapkan melalui perkataan, bisa juga melalui tindakan dalam bahasa tubuh."
Hal yang paling membuat saya salut sepanjang membaca buku ini adalah keinginan kuat dari anak-anak untuk belajar. Walaupun kondisi mereka sedang serba kekurangan, baik dalam keadaan kelaparan, perang, maupun harus bekerja, mereka tetap memiliki semangat yang meluap-luap untuk menuntut ilmu. Di pagi hari, anak-anak harus bekerja agar bisa memiliki makanan untuk esok hari, sedangkan pada malam harinya, mereka akan belajar di sekolah. Begitulah rutinitasnya. "Dengan cara seadanya dan keinginan yang kuat, selalu ada jalan untuk belajar." Keterbatasan ketersediaan alat tulis juga menjadi salah satu hambatan mereka dalam belajar. "Faktor yang menghalangi kesempatan sejumlah besar manusia di bumi ini untuk mendapatkan pendidikan bukanlah kemalasan, tetapi kemiskinan."
Situasi peperangan yang mengerikan, kondisi alam yang sudah tidak ada masa depannya lagi, membuat Tetsuko berpikir bahwa kondisi itu sudah tidak bisa diperbaiki lagi. "Tapi mereka tak pernah berhenti berharap."
Pada salah satu negara yang dikunjungi Tetsuko, banyak anak perempuan di bawah umur yang masih sangat belia dan sudah menjadi pelacur demi sesuap nasi sedangkan kondisi di negara tersebut sedang diserang virus HIV/AIDS yang begitu menyeramkan. "Aku memang takut. Tapi kalaupun aku tertular AIDS, aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi, kan? Kau tahu, keluargaku tidak punya makanan untuk besok."
Peperangan, bencana alam, dan bencana lainnya bukanlah penghambat bagi manusia sebagai makhluk sosial untuk bisa hidup berdampingan dengan penuh kedamaian. "Tak peduli apa ras dan bahasanya, semua manusia itu sama dan bisa saling memahami."


Halloooo
BalasHapus